HomiliHari Selasa Minggu ke-4 Masa Biasa Siklus II. Tema: Kekuatan cinta seorang Ayah! Oleh: Pdt. Oselumhense Anetor (Keuskupan Uromi) Homili Selasa 1 Februari 2022
Sewaktu ada yang meninggal, banyak orang akan berdatangan ke rumah istri atau suaminya untuk menghibur dan membantu. Orang yang ditinggalkan itu tentu menghargai perhatian dari para kerabat dan sahabat. Tapi, rasa dukanya mungkin tidak bisa segera hilang, dan dia membutuhkan penghiburan serta dukungan untuk waktu yang lebih lama. Alkitab mengatakan, ”Teman sejati penuh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara yang dilahirkan untuk waktu kesesakan.”—Ams. 1717. Kalau bertemu dengan orang yang masih berduka, bagaimana hendaknya kita menyapa mereka? Alkitab memberikan petunjuk, ”Hendaklah kamu semua sepikiran, memperlihatkan sikap seperasaan, memiliki kasih sayang persaudaraan, memiliki keibaan hati yang lembut.” 1 Ptr. 38 Hingga beberapa waktu, perasaan orang yang berduka itu masih tidak keruan. Jadi, meskipun tulus, mungkin kurang bijaksana kalau kita mengatakan, ”Bagaimana kamu sekarang, apa baik-baik saja?” Dia mungkin berpikir, ”Kamu tidak mengerti perasaanku, mana mungkin aku baik-baik saja?” Akan lebih baik jika kita dengan hangat menanyakan kabarnya, lalu kita bisa mengatakan sesuatu yang membesarkan hati seperti, ”Senang sekali ketemu kamu.” Saudara bisa mengajak dia makan bersama atau jalan-jalan. Marcos, seorang duda, merasa terhibur oleh teman-teman yang datang berkunjung. Apa yang mereka bicarakan? Katanya, ”Bukan tentang masalah saya tapi tentang apa saja yang menyenangkan.” Seorang janda bernama Nina mengatakan, ”Sahabat-sahabat saya sering mengatakan sesuatu yang tepat pada waktu yang tepat. Tapi, kadang mereka juga tidak ngomong apa-apa, mereka hanya menemani saya.” Kalau dia ingin bercerita, dengarkan baik-baik dengan sabar. Jangan terlalu banyak tanya, dan jangan menghakimi. Kita tidak perlu memberikan nasihat tentang caranya seseorang harus mengungkapkan rasa dukanya atau berapa lama dia harus berduka. Jangan sakit hati kalau dia sedang ingin sendiri. Saudara bisa kembali lain waktu. Teruslah tunjukkan kasih.—Yoh. 1334, 35.
KetigaMengenang bahwa suatu saat kita juga akan mengalami kematian. Kematian, sebagaimana yang sudah dialami oleh Almarhum adalah suatu fakta nyata dan akan dialami oleh semua orang. Mazmur 89:49 menulis,""Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian, yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang mati" Kesempatan ini marilah kita mengenang akan kematian kita.
Mingguini kita memperingati "Hari Ayah". Seorang ayah memiliki peran yang begitu penting dalam membangun sebuah keluarga, gereja dan juga bangsa. Pemazmur berkata "anak-anak-Mu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!" (Maz 128:3). Mutu suatu tunas sangat tergantung pada mutu induk pohonnya.
Sebagaiseorang Ayah, Gembala yang merindukan kita Focus pada Tuhan Yesus sang Gembala Agung. Pdt. Hengky PAP sudah invest sangat banyak dalam hidup Pak Hengky. Walaupun Pak Hengky sukar diatur. Tahun 98 Pak Hengky dikirim ke Swedia. Itulah saat pertama Pak Hengky naik Pesawat dan bertemu teman dengan puluhan berbagai Negara. Iatelah menuntaskan tanggung jawabnya sebagai ayah dan guru. Namanya akan selalu hidup dalam sanubari. Baktinya akan terukir dihati. Ia yang telah menjadi pelita dalam kegelapan pendidikan. Embun penyejuk di hati setiap anak didik yang selalu haus benih ilmu dan iman. Ia bukan saja suami, ayah bagi anak-anak, guru bagi anak didik, tapi juga KHOTBAHPEMAKAMAN SEORANG AYAH (II Tesalonika 2:16-17) Ada ratapan dan tangisan di setiap peristiwa kematian. Tapi tak seorangpun dapat menghindar dan menolak saat gelap kematian menjemput. Hidup yang fana dan dunia hanyalah tempat sementara. Kematian memang sebuah misteri bagi manusia. Tak ada seorangpun yang tahu kapan, di mana dan cara
Tertullianus seorang tokoh Gereja berkata begini : "Darah para martyr adalah benih bagi Gereja". Rasul Paulus dan rasul - rasul lainnya telah menjadi martyr dalam Pekabaran Injil pada abad - abad pertama. Mereka disebut martyr karena telah memberi seluruh kehidupan mereka sampai mati demi Pekabaran Injil. Ada yang mati disalibkan terbalik.

Esauadalah seorang anak yang mandiri, yang suka berada dipadang dan sulit bekerja sama dengan orang lain. Kita harus berhati-hati dengan kenikmatan sesaat yang akan membawa kita kedalam dosa dan kematian. Mengandalkan diri sendiri (Kej 25 - Hormati ayah dan ibumu (Ef 6:2) "Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah

nKCMrdw.